Menjaga Kebugaran Ibu Menyusui selama Berpuasa

Berkurangnya kalori (energi) selama berpuasa ternyata tidak mempengaruhi kualitas dan kuantitas ASI yang diproduksi, tapi apabila Bunda mulai merasakan perubahan fisik dari berpuasa sebaiknya Bunda segera membatalkan puasa demi kesehatan Bunda dan si kecil ya. Beberapa keluhan berpuasa yang perlu Bunda perhatikan sebagai tanda untuk membatalkan puasa adalah merasa sangat kehausan kelelahan tanpa alasan, wajah terasa panas dan memerah, lebih mudah tersinggung dan kurang sabar, sakit kepala dan gangguan tidur, air seni berwarna kuning pekat pertanda kekurangan cairan dan pusing serta lemas. Perhatikan juga apabila si keci menunjukkan tanda tidak cukup ASI seperti BB tidak naik, BAK kurang dari 6x dan air seni pekat, bayi gelisah dan rewel serta terdapat tanda2 dehidrasi.

Nah, apabila Bunda yakin untuk berpuasa maka menjaga kebugaran selama berpuasa juga harus diperhatikan ya meskipun kualitas dan kuantitas ASI tetap dapat dipertahankan. Si kecil akan tercukupi kebutuhan ASI nya dan tumbuh ceria dengan tetap memperhatikan pola makan sehat sesuai menu gizi seimbang dan menjaga kebugaran tubuh. Tubuh yang selalu sehat dan bugar akan mendukung kelancaran berpuasa dan menyusui. Jadi, bila ibu menyusui tetap memutuskan untuk menjalankan puasa Ramadhan, mungkin tips berikut dapat bermanfaat untuk menjaga kebugaran.

ASUPAN MENU GIZI SEIMBANG.
Pertahankan pola makan 3x sehari dengan menu gizi seimbang, pada saat sahur, ketika berbuka puasa dan menjelang tidur sesudah shalat tarawih. Konsisten menjaga kualitas dan kuantitas asupan. Ini yang kadang sulit dilakukan. Kadang kalau ibu sibuk dan kemudian kelelahan yang sering dikorbankan adalah makan. Makan telat, malas amakan, atau makan seadanya yang penting makan. Padahal agar lancar puasa, asupan harus lebih diperhatikan.

PERBANYAK CAIRAN. 
Minum air putih sebanyak dua liter ditambah jenis cairan lainnya. Hindari teh dan kopi saat sahur karena bersifat deuretik, yang menyebabkan ibu sering buang air kecil.

STIRAHAT YANG CUKUP.
Merasa lemas saat berpuasa itu hal yang lumrah, apalagi jika si ibu baru saja menyusui. Cobalah untuk beristirahat sejenak, apakah dengan cara tidur atau sekedar relaksasi menenangkan pikiran. Yakinlah selalu, puasa maupun tidak, bahwa ibu telah memberikan yang terbaik bagi si kecil, yaitu semua gizi, zat kekebalan, enzim dan hormon yang diperlukan si kecil untuk tumbuh sehat dan cerdas melalui ASI, serta dasar menjadi anak sholeh-sholehah, karena pada saat bayi menyusu, ia juga belajar mengembangkan naluri, merasakan kasih sayang dan ikatan batin dengan ibunya, suatu hak eksklusif yang tidak akan bisa digantikan.

TETAP BERGERAK.
Meski berpuasa dan perlu menghindari aktivitas fisik yang berlebihan, Ibu tetap perlu bergerak agar tubuh tak terasa lemas dan tetap bugar. Siasati dengan berolahraga di saat sudah berbuka puasa. Misalnya, dengan melakukan prenatal yoga atau bermain dengan anak sebelum tidur malam. Bagi mamil, menurut Dr. Many Alvarez, dokter obgin di Hackensack University, yoga dapat membantu tiga hal dasar yang berpengaruh pada kehamilan, yaitu fleksibiltas, ketenangan mental dan fokus pernapasan. Waktunya tak perlu lama-lama, cukup 5-10 menit saja.

IBU BEKERJA.
Ibu bekerja yang memerah ASI di tempat kerjanya disarankan untuk tetap memerah ASI seperti biasa. Kembali berpegang pada prinsip demand and supply, semakin banyak ASI dikeluarkan maka semakin banyak ASI yang diproduksi.

PERHATIKAN SINYAL TUBUH.

Pada Ibu : jika ibu mulai pusing atau air seni mulai pekat, sebaiknya hentikan dulu puasanya. Pada bayi : jika frekuensi BAK kurang dari 6x, air seni mulai pekat, kelihatan gelisah seharian, rewel atau berperilaku di luar kebiasaaan normalnya, ada gejala-gejala dehidrasi lain, segera hentikan dulu puasa ibu. Ibu hendaknya tetap tenang beribadah dan percaya diri terus menyusui, jangan merasa khawatir ASInya akan berkurang, sebab rasa cemas tersebut justru akan menghalangi kerja hormon Oksitosin mengeluarkan ASI dari payudara, sehingga akan nampak seolah-olah ASI ibu berkurang. Ingatlah bahwa menyusui pun juga ibadah.

Sumber : tabloid nakita. No. 947/TH.XIX/24/30 Mei 2017, Narasumber : dr. Wiryani Pambudi, Sp.A, IBCLC dan Nazhif Ghifari, SGz, M.Si Ahli Gizi IPB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat