fbpx

Kenali Sinyalnya Sebelum Terlambat Tekanan Darah Tinggi Saat Hamil: Waspada Preeklamsia

Kehamilan sering disebut sebagai masa yang membahagiakan, penuh harapan, cinta yang tumbuh sejak dalam kandungan, serta impian tentang hadirnya kehidupan baru. Namun, bagaimana jika di balik wajah yang tampak baik-baik saja, tubuh ibu sebenarnya sedang memberi sinyal bahaya?

Sakit kepala hebat yang tak kunjung reda.
Pandangan terasa kabur.  Tangan dan wajah membengkak lebih dari biasanya. Atau bahkan, tekanan darah tiba-tiba meningkat setelah persalinan, saat banyak orang mengira masa kritis telah berlalu. Banyak ibu menganggapnya sebagai lelah biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda preeklamsia, yaitu kondisi serius yang tidak hanya terjadi saat hamil, tetapi juga bisa muncul hingga masa nifas.

💛 Apa Itu Preeklamsia?

Menurut Sarwono Prawirohardjo (2020), preeklamsia adalah penyakit spesifik pada kehamilan yang ditandai dengan:

  • Tekanan darah tinggi (≥ 140/90 mmHg)
  • Adanya protein dalam urin (proteinuria)

Kondisi ini umumnya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu atau bahkan segera setelah persalinan. Preeklamsia terjadi akibat gangguan pada pembuluh darah (vasospasme), retensi cairan, serta aliran darah ke plasenta yang tidak optimal.

Yang perlu diwaspadai, preeklamsia sering datang tanpa gejala yang jelas di awal, diam-diam, perlahan, hingga akhirnya terlambat disadari.

Karena itu, mengenali sinyal sejak dini bukan hanya tentang kewaspadaan, tetapi tentang melindungi dua nyawa saat hamil, dan satu nyawa yang tetap berharga setelah persalinan.

⚠️ Gejala Preeklamsia yang Perlu Diwaspadai

Gejala preeklamsia bisa berbeda pada setiap ibu. Beberapa ibu mungkin mengalami berbagai gejala yang terlihat, namun yang lain bisa tanpa gejala.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Tekanan darah tinggi yang menetap
  • Protein dalam urin
  • Sakit kepala hebat
  • Gangguan penglihatan (kabur, melihat bintik-bintik)
  • Nyeri pada perut bagian atas
  • Mual dan muntah setelah trimester pertama
  • Pembengkakan pada wajah dan tangan

Jika ibu merasakan salah satu atau beberapa gejala di atas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

🌼 Faktor Risiko Preeklamsia

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko preeklamsia meliputi:

  • Riwayat keluarga dengan preeklamsia
  • Penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi sebelum kehamilan, gangguan tiroid
  • Penyakit autoimun (misalnya lupus, Sjogren, gangguan pembekuan darah), dll
  • Kehamilan kembar
  • Obesitas (Indeks Massa Tubuh > 35)
  • Usia ibu hamil < 18 tahun atau > 40 tahun
  • Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya

Jika ibu memiliki salah satu faktor di atas, penting untuk melakukan pemantauan kehamilan secara lebih rutin dan terarah.

🚨 Komplikasi yang Bisa Terjadi

Tanpa penanganan yang tepat, preeklamsia dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti:

  • Eklampsia (kejang)
  • Sindrom HELLP
  • Kerusakan organ (ginjal, hati, otak)
  • Abrupsi plasenta
  • Kelahiran prematur
  • Pertumbuhan janin terhambat
  • Risiko kematian ibu dan janin

Karena itu, deteksi dini dan penanganan cepat sangatlah penting.

🩺 Penanganan Preeklamsia

Penanganan dan pengelolaan preeklamsia bergantung pada tingkat keparahan dan usia kehamilan, dengan tujuan utama mencegah komplikasi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Pengobatan utama yaitu dengan pemberian magnesium sulfat untuk mencegah kejang
  • Obat antihipertensi untuk mengontrol tekanan darah
  • Kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru-paru janin jika persalinan prematur di perkirakan terjadi
  • Pemantauan ketat kondisi ibu dan bayi

🌿 Penutup

Preeklamsia bukan kondisi yang selalu terlihat jelas, tetapi dampaknya bisa sangat besar jika terlewat. Maka, jangan abaikan sinyal sekecil apa pun yang tubuh berikan. Karena menjaga kesehatan ibu bukan hanya tentang menjalani kehamilan dengan baik, tetapi juga tentang memastikan keselamatan hingga setelah persalinan.

💛 Kenali sinyalnya, dengarkan tubuhmu, dan jangan ragu mencari pertolongan sebelum terlambat.

Penulis: Anisa (disunting oleh Bekti)

Referensi : 

Abdul Bari Saifuddin (Penyunting) ; Trijatmo Rachimhadhi (Penyunting) ; Gulardi H. Wiknjosastro (Penyunting).Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo / Abdul Bari Saifuddin (editor), Trijatmo Rachimhadhi (editor), Gulardi H. Wiknjosastro (editor).2020

Hadijah, et. al, 2025. Faktor Risiko Preeklamsia: Tinjauan Aspek Internal Pada Ibu Hamil. http://jurnal.ensiklopediaku.org. Vol. 7 No.3 Edisi 3 April 2025. Diakses 21 Februari 2026

Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Sekretariat Jenderal Profil Kesehatan Indonesia 2023.Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2024. Diakses 21 Februari 2026

Kennneth, J. Leveno et al.2003.  Williams Manual of Obstetrics, 21 Ed. Jakarta. EGC

Keputusan Menteri Kesehatan. NOMOR HK.01.07/MENKES/91/2017. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Komplikasi Kehamilan.

https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2655/kenali-tanda-bahaya-preeklampsia Diakses 21 Februari 2026

Postpartum preeclampsia or eclampsia: defining its place and management among the hypertensive disorders of pregnancy. Hauspurg, Alisse et al. 2022. American Journal of Obstetrics & Gynecology, Volume 226, Issue 2, S1211 – S1221. Diakses 21 Februari 2026

https://web.rshs.go.id/bagaimana-mencegah-pre-eklamsi-dalam-kehamilan/ diakses pada 21 Februari 2026

Shahd A. Karrar; Daniel J. Martingano; Peter L. Hong.Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/books/NBK570611/ diakses 21 Februari 2026

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/pre-eclampsia diakses pada 21 Februari 2026

https://www.informasibidan.com/2023/01/preventing-and-managing-preeclampsia-in.html diakses pada 21 Februari 2026

Scroll to Top