Kisah InspirASI : Perjalanan Menyusui ASI Eksklusif untuk Malaikat kecilku, Hanina

Ditulis oleh : Bunda Mutiadhini

Assalamu’alaikum, perkenalkan namaku Dhini ibu dari malaikat kecilku Hanina. Saat ini anakku Hanina sudah berusia 6 bulan, lega bercampur haru ketika dia tumbuh dengan sehat, cerdas, dan bahagia. Alhamdulillah Hanina sudah lulus asi eksklusif 6 bulan dan sekarang sedang memasuki fase makan yaitu penerapan MPASI. Hanina makan dengan lahapnya dan nampak bahagia ketika berekplorasi dengan makanannya. Bila menilik kebelakang, aku sangat bersyukur karena memutuskan untuk tidak menyerah dengan berbagai tantangan menyusui yang kuhadapi dalam memberikan ASI eksklusif untuk Hanina.

Aku mulai menyibukkan diri untuk belajar dan membekali diri dengan ilmu laktasi dan persalinan serta bagaimana menjadi ibu baru sejak Hanina masih dalam kandungan. Hal ini aku lakukan karena bagiku menjadi ibu adalah tentang proses belajar. Sejak pertama mendengar detak jantung hanina di minggu ke 10 kehamilan, saya berjanji pada diri saya sendiri dan juga hanina yang masih di dalam kandungan bahwa saya akan belajar menjadi ibu terbaik baginya. Seperti nasihat yang diungkapkan oleh salah satu tokoh terkenal di Dunia Warren Buffet bahwa “Risiko datang karena ketidaktahuan kita dalam melakukan sesuatu”. Nasihat ini sangat mengena di hatiku sehingga memacuku untuk terus belajar.

Dengan belajar menjadi ibu, aku berusaha menghindari risiko karena ketidaktahuanku sendiri sebagai ibu baru. Dari tekad itulah, akhirnya aku bisa berkenalan dengan Sanggar ASI. Berawal dari sebuah acara edukasi menyusui dan menejemen ASI yang diselenggarakan Sanggar ASI, aku ikut menjadi salah satu pesertanya. Aku tidak datang sendirian, aku ajak serta ibuku untuk menjadi peserta. Waktu itu, aku berfikiran bahwa peran ibuku sangat penting pada proses kehamilan, melahirkan, dan pasca melahirkan sehingga aku harus bisa satu pemahaman dengan ibuku. Oleh karena itu, aku ajak serta ibuku untuk belajar  dan membekali diri dengan ilmu laktasi bersama sanggar ASI.

Dari proses edukasi tersebut, Aku dan ibuku sama-sama satu suara bahwa aku harus bisa mengusahakan untuk memberikan ASI eksklusif untuk Anakku Hanina 6 selama bulan penuh dan berusaha menyusui anakku sampai masa penyapihan tiba. Ibuku mendukungku meskipun saat aku bayi beliau hanya memberikanku asi eksklusif sampai 3 bulan saja. Tidak hanya itu, ibuku pun sepakat untuk memberikan ASIP dengan media selain dot ketika aku harus kembali bekerja untuk menghindari Hanina mengalami bingung putting dan resiko lain penggunaan dot. Kami ingin mengusahakan bahwa Hanina dapat menyusu kepadaku sampai iya puas, paling tidak selama 2 tahun. Saat edukasi, Ibuku dengan semangat belajar menggunakan media selain dot dan memilih media mana yang nyaman untuk beliau gunakan kelak. Sungguh besar rasa syukurku bahwa dengan lebih teredukasi seputar menyusui membuat aku merasa lebih siap menjadi calon ibu dan ibuku pun satu pemahaman denganku.

Ketika HPL semakin dekat, aku mempersiapkan perlengkapan menyusui dan juga peralatan menyimpan ASIP sebaik mungkin. Bagiku, masa post-partum adalah ibarat medan perjuangan di mana aku dan anakku harus menjadi pemenang di dalamnya. Oleh karena itu, persiapan adalah modal utamaku. Aku mempersiapkan diriku untuk menjadi breast feeding mama yang bisa menyusui anakku kapan pun dan dimanapun secara fleksibel dan nyaman.

Peralatan yang kusiapkan seperti pakaian dan pakaian dalam yang busui friendly, apron menyusui, dan breastpad. Selain itu, aku juga mempersiapkan diriku untuk mengelola ASIP ku dengan baik ketika aku harus kembali bekerja lagi setelah masa cuti melahirkanku habis. Peralatan yang kusiapkan seperti alat pumping ASI, tempat penyimpanan ASIP, cooler bag, dan buku menejemen ASIP. Peralatan yang tidak kalah penting lainnya adalah media pemberian ASIP itu sendiri, aku membeli set pemberian ASIP dengan media selain dot. Semua peralatan tersebut sebagian besar aku beli di Sanggar Asi.

Ketika hari kelahiran anakku tiba, aku bisa melewatinya dengan tenang, gembira, dan minim trauma. Sungguh proses kelahiran itu menjadi salah satu pengalaman terbaik dalam hidupku. Rasanya perjuanganku untuk mengusahakan kelahiran yang indah dapat terwujud. Perasaan bahagia pasca melahirkan membuat ASIku lancar.

Akan tetapi, tantangan menyusui anakku dimulai. Proses awal menyusui Anakku Hanina tidaklah mulus meskipun aku telah belajar menyusui bayi ketika hamil. Putingku lecet parah sehingga terbelah dan berdarah. Rasanya sakit sekali… Sakit sekali hingga setiap menyusui Anakku, aku harus meremas tangan suamiku dan mengatakan padanya seharusnya tidak sesakit ini. Aku tau, bahwa putingku berdarah pasti karena posisi pelekatan anakku ketika menyusu belum benar, seperti yang aku pelajari ketika edukasi menyusui.

Aku berusaha sebisa mungkin mengikuti instruksi perawat yang mengajariku menyusui anakku dengan benar, tetapi aku belum bisa mahir dalam waktu cepat. Perawat mengatakan putingku termasuk flat nipple sehingga bayiku sulit belajar menyusu. Rasanya aku ingin menangis saat itu karena menahan sakit, merasa bersalah karena belum pandai menyusui anakku, dan perasaan tertekan dengan suara tangis anakku yang sudah lapar. Perawat menyarankan untuk menarik putingku dengan nipple puller, aku mengiyakan dan meminta suamiku membantuku meskipun aku tau itu akan sakit sekali. Aku tidak mau menyerah meskipun bagitu.

Aku ingat betul pesan pembicara ketika edukasi menyusui bahwa aku harus menyusui anakku dengan keras kepala. Ya, saat itu aku berusaha keras kepala untuk bisa menyusui anakku. Bagiku, menerima rasa sakit itu merupakan bagian dari perjuangan sebagai Ibu. Saat itu, aku teringat akan sebuah kutipan yang mengatakan bahwa “Bila menjadi Ibu itu mudah, maka bukan surga balasannya”. Aku tanamkan dalam diriku bahwa aku pasti bisa, aku hanya perlu bersabar untuk membantu diriku sendiri belajar dan juga memberi waktu Hanina untuk belajar. Aku hanya berusaha fokus untuk bersyukur bahwa ASIku sudah keluar dengan cukup untuk anakku. Itu modal utamanya.

Foto : Hanina saat berusia 3 bulan

Akan tetapi, lagi-lagi keyakinanku benar-benar di uji setelah pulang ke rumah dengan bayiku. Aku belum juga bisa memposisikan pelekatan dengan benar sehingga putingku semakin sakit. Selain itu, aku baru mengetahui bahwa ternyata kulitku seperti alergi dengan ASI ku sendiri. Setiap kali ASI ku menetes di kulitku ketika menyusui, aku merasakan sangat gatal dan panas. Sungguh tidak nyaman waktu itu. Selain itu, tiba-tiba kondisi kesehatanku menurun drastis karena kelelahan beradaptasi menjadi ibu baru. Tiba-tiba aku mengalami batuk kering yang membuatku radang tenggorokan, sakit radang telinga, demam, sakit kepala sebelah, dan juga sakit nyeri punggung. Rasanya seluruh beban bertumpuk padaku, berat sekali. Bahkan, setiap kali Hanina ingin menyusu, aku mulai merasa takut dan cemas membayangkan sakitnya. Akan tetapi saat itu, aku tetap tidak ingin menyerah walaupun semuanya terasa tidak mudah. Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali berkonsultasi dengan konselor laktasi di Sanggar Asi, Mbak Malinda.

Aku berkonsultasi dengan Mbak Malinda via jejaring sosial media karena saat itu belum memungkinkan untuk kami bisa segera saling bertemu. Aku menceritakan perihal keluhanku dan menunjukkan bagaimana aku menyusui Anakku hanina. Dari proses itu, aku mendapatkan feedback secara langsung dan diberikan evaluasi bagaimana aku harus membenahi posisi menyusuiku dan merawat luka lecet di putingku. Aku mempraktekkan saran yang diajarkan Mbak Malinda sebaik-baiknya ketika menyusui Hanina.

Pada akhirnya, aku menjadi lebih lihai memposisikan pelekatan dan Hanina semakin pintar menyusu kepadaku. Tidak lama dari itu, aku mengetahui dari tetanggaku bahwa VCO bisa membantu menyembuhkan luka lecet pada puting dan membantu puting ibu menjadi lebih lunak ketika bayi menyusu. Akhirnya aku membiasakan mengolesi putingku dengan vco sebelum menyusui dan sesudah menyusui selain mengoleskan asi. Hal ini ternyata berhasil menyembuhkan luka lecet di putingku dan membuat diriku bisa sepenuhnya menikmati proses menyusui anakku. Semakin hari, aku merasa semakin terbiasa dengan kegiatan menyesuai dan aku merasa semakin nyaman menjalaninya. Anakku pun nampak semakin berisi karena banyak menyusu padaku.

Selama masa cuti melahirkanku, sejak hari ke 7 setelah melahirkan anakku, aku sudah memerah ASI ku. Hal ini kulakukan karena aku ingin mempersiapkan persedian ASIP yang cukup untuk anakku nanti ketika aku harus kembali bekerja. Sebagai mana niatku diawal, aku ingin mengusahakan untuk bisa memberikan ASI eksklusif untuk anakku Hanina meskipun aku ibu bekerja. Bagiku, memenuhi salah satu tahap pemberian standar gizi emas untuk Hanina adalah prioritas utamaku. Aku memerah asiku rata-rata 5x sehari selama masa cuti. Setiap bangun malam untuk menyusui anakku pun aku juga menyempatkan untuk memerah ASI-ku. Meskipun mengantuk, aku berusaha agar rajin memerah ASI-ku.

Saat anakku berusia 2 bulan, masa cuti melahirkan ku habis. Pada saat itu, bila kuhitung-hitung aku sudah punya persedian ASIP untuk 3 bulan kedepan. Aku hanya perlu melanjutkan mempompa ASI di sela-sela waktu bekerjaku untuk tetap menjaga persedian ASIP untuk hanina hingga aku tetap bisa memberikannya ASI kepadanya hingga 2 tahun. Rasanya sangat lega, mengetahui bahwa hasil jerih payah menabung ASIP membuahkan hasil yang nyata. Aku bisa tenang kembali bekerja.

Selama aku bekerja, Hanina di asuh oleh ibuku. Disini terlihat sekali bahwa usahaku untuk menyamakan persepsi dengan ibuku melalui edukasi menyusui dan menejemen ASIP sangat membawa manfaat. Ibuku dengan luwes bisa memberikan ASIP kepada hanina dengan media selain dot. Pada awal pemberian ASIP, kami memutuskan untuk menggunakan spuit. Spuit adalah pilihan ibuku, aku meminta beliau memilih mana media yang paling nyaman dan mudah untuk memberikan ASIP karena beliaulah yang kelak akan menggunakannya. Selain sudah mahir menggunakan spuit, ibuku pun sudah mahir tentang bagaimana menyajikan ASIP yang benar. Rasanya aku sungguh lega dan tenang kembali bekerja.

Akan tetapi, ketika Hanina masuk 3 bulan, Ia sudah tidak mau lagi meminum ASIP menggunakan spuit ketika aku bekerja. Aku dan ibuku pada akhirnya berusaha mencobakan media pemberian asip lain. Kami mencoba semua media pemberian ASIP selain dot dalam paket yang kami beli di Sanggar ASI. Kami mencoba menggunakan pipet, cup feeder, gelas sloki, dan sendok tetapi Hanina menolak semuanya. Ketika diamati, Hanina menginginkan media pemberian ASIP yang memungkinkan dirinya memegang sendiri dan beraliran deras. Aku sempat bingung sekali, tetapi aku tetap kukuh tidak ingin menyerah. Aku tau aku tidak berjuang sendiri. Aku punya tempat berkonsultasi yaitu di Sanggar ASI. Lagi-lagi aku menghubungi Mbak Malinda. Kali ini untuk mengkonsultasikan media pemberian ASIP apa yang bisa kugunakan.

Kebetulan saat itu terdapat kado dari teman sekantorku yang berisikan spout. Aku sempat ingin mencobakannya kepada Hanina tetapi aku ragu karena Spout seharusnya untuk bayi 6 bulan ke atas. Aku takut Hanina tersedak. Akan tetapi, Mbak Malinda meyakinkan aku tidak ada salahnya mencobanya tetapi aku harus yakin terlebih dahulu. Mbak Malinda menunjukkan cara menggunakannya dan memintaku untuk memastikan bahwa aku atau ibuku memangku Hanina ketika memberikan ASIP dengan spout. Setelah berkonsultasi, aku jauh lebih yakin. Aku dan ibuku mantap untuk mencobakan spout kepada Hanina meskipun dia baru 3 bulan. Di luar dugaan, Hanina sangat menyukai pemberian ASIP dengan spout dan dia tidak tersedak seperti yang kutakutkan. Bahkan, di usia 3.5 bulan, keterampilan motorik halusnya semakin baik. Hanina sudah bisa memegang gelas spoutnya sendiri ketika minum sambil didudukkan. Kemampuan menggenngamnya terstimulasi dengan lebih baik karena Hanina diberi kesempatan memegang gelas spoutnya sendiri.

Akan tetapi, ternyata beberapa orang disekitarku menyampaikan ketidaksetujuannya kepada caraku memberikan ASIP kepada Hanina. Seringkali mereka mempersalahkan keputusanku untuk memberikan Hanina ASIP dengan media selain dot. Mereka berpendapat bahwa aku menyusahkan ibuku dengan beridealisme yang berlebihan, mengatakan bahwa media pemberian ASIP selain dot itu kurang efektif dan hanya membuat ASIP terbuang, dan sebagainya. Selain itu, seringkali mereka juga berkomentar bahwa aku terlalu idealis karena baru memiliki anak pertama. Komentar-komentar itu sering membuat aku tidak nyaman, tapi aku selalu berusaha menghiraukannya karena aku percaya bahwa aku tau yang terbaik untuk anakku Hanina. Aku harus berpendirian kokoh dan tetap percaya pada diriku sendiri dan juga kepada Hanina.

Pernah beberapa kali ibuku mulai nampak terprovokasi dengan komentar-komentar tersebut. Akan tetapi, aku berusaha meyakinkan ibuku bahwa apa yang aku lakukan ini tidak lain adalah untuk membuat generasi keturunan dari keluarga kami semakin baik, bukan karena maksud lainnya. Aku yakinkan ibuku, bahwa kami hanya perlu sedikit bersabar dan melihat sendiri hasilnya kelak. Sejak itu, ibuku semakin yakin dan tidak pernah ragu lagi.  Sekarang terbukti, dengan dukungan keluargaku yang satu visi denganku, aku akhirnya bisa memberikan ASI eksklusif untuk Anakku Hanina dengan media selain dot meskipun aku ibu bekerja.

Teruntuk seluruh Ibu Menyusui dimanapun berada, Menyusui adalah kewajiban kita sebagai ibu, dan menyusu adalah hak anak kita yang harus kita penuhi. Menyusui layak diperjuangkan, menyusuilah dengan niat untuk ibadah. Setiap ibu memiliki tantangannya masing-masing. Apapun tantangannya, hadapilah dan selesaikanlah Bunda. Menyusui itu ada ilmunya, bekali diri dengan informasi dan ilmu Laktasi dari sumber yang terpercaya. ASI PASTI, YAKIN BISA.

Salam sayang dariku dan Hanina untuk seluruh ibu pejuang ASI, wassalamu’alaikum

Pengalaman ibunda Mutiadhini ditahun 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat